Senin, 22 April 2024

Souvenir, Sebagai Bagian Dari Pencitraan Destinasi
(Pelatihan Pembuatan Souvenir, Dinas Pariwisata Kabupaten Ende)


Dalam rangka memperkuat daya jual Destinasi Wisata Kabupaten Ende, Dinas Pariwisata Kabupaten Ende bekerjasama dengan Lembaga Ekonomi Kreatif Du Anyam Jakarta melakukan pelatihan Pembuatan Souvenir yang diperuntukkan bagi Desa - Desa Wisata di Kabupaten Ende. Pelatihan berdurasi 6 hari ini dibagi dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapan berlangsung selama 3 hari. 

"Souvenir adalah sesuatu yang akan mampu menceritakan sebuah Destinasi. Dengan souvenir yang berkualitas, diharapkan kenangan wisatawan akan membekas dan pada akhirnya berdampak pada kembalinya mereka ke sebuah destinasi serta mampu menjadi alat bagi wisatawan tersebut untuk menceritakan tentang destinasi yang telah dia kunjungi", ujar Mohamad Sahab HS,SH, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Ende. 

Adapun desa-desa wisata yang terlibat dalam pelatihan ini sebagai peserta adalah : Desa Watunggere - Kecamatan Detukeli, Desa Tonggopapa - Kecamatan Ende, Desa Woloara - Kecamatan Kelimutu, Desa Woloara Barat - Kecamatan Kelimutu, Desa Wolotopo - Kecamatan Ndona, Desa Waturaka - Kecamatan kelimutu, Desa Koanara - Kecamatan Kelimutu, Desa Wolotopo Timur - Kecamatan Ndona, Desa Rorurangga dan Desa Mukusaki - Kecamatan Wewaria. 


Kegiatan yang mengambil tempat di Hotel Makanul Amni Ende ini bertujuan menampilkan pemateri Kelompok Kerajinan Karya Ibu Detukeli dan Komunitas Du Anyam Jakarta sebagai pemateri utama. "Kerjasama dengan Komunitas Du Anyam ini berawal dari keinginan Dinas Pariwisata Kabupaten Ende untuk mendekatkan kelompok kerajinan lokal dengan jaringan pasar nasional dan internasional yang dimiliki oleh Du Anyam", Irma Teku, SE, Kabid Kelembagaan Dinas Pariwisata Kabupaten Ende. (Ferdy Wara - Mario Lagu)











Rabu, 17 April 2024

Baiknya Bersepeda di Mukusaki
(Perjalanan BikeBaikSaja) 
Cycling Arround Mukusaki

       (A Journey of BikeBaikSaja)

Dalam peta Pola Perjalanan / Travel Pattern Pariwisata di Destinasi Kabupaten Ende, selama sekian tahun wisatawan melakukan pola perjalanan yang hampir sama dan cenderung tidak berubah. Namun semenjak tahun 2022, salah satu unsur dalam Pola Perjalanan pelan-pelan berubah. Bisa dikatakan persebaraan Daya Tarik Wisata di Kabupaten Ende terbagi dalam empat cluster, yaitu : Cluster Kota Ende, Cluster Kelimutu dan sekitarnya, Cluster Detukeli dan sekitarnya serta Cluster Pantai Utara. 

The Travel Patterns  in Ende Regency, for so many years tourists have made almost the same travel patterns and tend not to change. But since 2022, one element of Travel Patterns has slowly changed. It can be said that the distribution of Tourism Attractions in Ende Regency is divided into four clusters, namely: Ende City Cluster, Kelimutu Cluster and its surroundings, Detukeli Cluster and surrounding areas and North Coast Cluster.

Perkembangan ini tentu baik untuk menambah varian atraksi bagi wisatawan sehingga tujuan pembangunan pariwisata Kabupaten Ende guna meningkatakan jumlah kunjungan wisatawan serta menambah jumlah lama tinggal tinggal wisatawan di Destinasi Kabupaten Ende. 

This development is certainly good for adding a variety of attractions for tourists so that the purpose of tourism development of Ende Regency is to increase the number of tourist visits and increase the number of lenght of stays in the destination.

Pada beberapa kesempatan yang lalu, penulis berkesempatan untuk menjelajahi keperawanan pariwisata Pantai Utara. Melakukan aktivitas wisata dengan bersepeda adalah sebuah pengalaman baru, khususnya untuk jalur Pantai Utara Ende. 

On several occasions ago, the author had the opportunity to explore the virginity of North Coast tourism. Doing tourist activities by cycling is a new experience, especially for the North Coast of Ende route.

Desa Mukusaki adalah di Kecamatan Wewaria - Kabupaten Ende dengan jarak tempuh sekitar 80 km dari Kota Ende serta waktu tempuh sekitar 2 jam dari Kota Ende.

Mukusaki Village is in Wewaria District of Ende Regency with a distance of about 80 km from the city and a travel time of about 2 hours from the city.

Pilihan Penginapan (Where to Stay) : 
Sao Paolo Bed and Breakfast 
Whatsapp : 082247664789





Day 1 : Menyusuri Kampung Mukusaki dan Watubara

            Cycling arround Mukusaki Village and Watubara 


Pantai Watubara hanya berjarak sekitar 10 menit bersepeda dari penginapan Sao Paolo Bed and Breakfast di Mukusaki. Menyusuri perkampungan nelayan dan bermuara di sebuah pantai yang sangat tenang akan memberikan pengalaman lain yang sungguh berkesan. Berendam di pantai Watubara bisa menjadi opsi lain.

Watubara Beach is about 10-minutes riding from Sao Paolo Bed and Breakfast in Mukusaki. Walking through a fishing village and emptied into a very calm beach will provide another truly memorable experience. Soaking in Watubara beach can be another option.

Day 2 : BikeBaikSaja Apabila Bersepeda di Pagi Hari 
            BikeBaikSaja Morning Cycling

Di hari kedua, tepatnya sekitar jam 6.00 Wita menjadi pilihan berikutnya untuk mencoba menikmati Mukusaki dan sekitarnya dengan bersepeda. Rute yang dipilih Mukusaki - Aemuri - Aekole (sekitar 10 km) sebenarnya adalah pilihan seketika, namun ternyata ini menjadi pilihan menyenangkan. Sepuluh menit bersepeda ke arah timur, mata akan disuguhi atmosfer persawahan dan suasana rawa-rawa yang sungguh menyejukkan. Rehat sejenak sambil menghirup udara segar dapat menambah energi baru. Perjalanan pagi itu akan berakhir di kampung Aekole yang pada beberapa tahun silam adalah kawasan kebun warga seputaran Mukusaki Raya, namun kawasan tersebut kini telah berubah menjadi sebuah kampung. Di ujung kampung, sembari beristirahat, mengambil dokumentasi Rumah Adat Aekole adalah nilai tersendiri dari journey di pagi yang indah. Perjalanan akan berakhir di Aekole, untuk selanjutnya dengan rute yang sama kembali menuju Kampung Mukusaki. 

On the second day, precisely around 6.00 local time became the next choice to try to enjoy Mukusaki and its surroundings by cycling. The route chosen by Mukusaki - Aemuri - Aekole (about 10 km) was actually an instant choice, but it turned out to be a fun option. Ten minutes of cycling to the east, the eye will be treated to the atmosphere of rice fields and swampy atmosphere that is really cool. Taking a break while breathing fresh air can add new energy. The morning trip will end at Aekole village which a few years ago was a community garden area around Mukusaki , but the area has now turned into a village. At the end of the village, while resting, taking documentation of the Aekole Traditional House is a special value of the journey on a beautiful morning. The trip will end at Aekole, then with the same route back to Mukusaki Village.



                                             

 


Rabu, 10 April 2024

 




ENDE HARBOUR

During his exile, Sukarno was forbidden to discuss politics and even read various books. Father Gerardus Huitjin, SVD and Father Dr. Johanes Bouma, SVD (Dutch missionary working in Ende Archdiocese) were two figures who provided space for Sukarno to read books in the church library and freely discuss any theme.


MUSEUM SOEKARNO

During his 4 years of exile in Ende, Soekarno and his family settled in a house owned by Mr. H. Abdullah Ambuwaru. The house measuring 9 x 18 M2 has two bedrooms, guest rooms, boudoirs, prayer rooms, kitchens, bathrooms and warehouses. There is no electricity and clean water piping and only has a well with a depth of 12 m. Various relics of his heritage are still cared for and stored in the house under the management of the Cultural Heritage Center of Bali and Nusa Tenggara for nowadays called as Museum Soekarno / Situs Bung Karno.


SERAMBI SOEKARNO

During his exile, Soekarno was forbidden to discuss politics and even read various books. Father Gerardus Huitjin, SVD and Father Dr. Johanes Bouma, SVD (Dutch missionary working in Ende Archdiocese) were two figures who provided space for Sukarno to read books in the church library and freely discuss any theme.



PANCASILA SQUARE

This is the most important site for Soekarno's historical heritage in Ende. In this park, Soekarno did a devotion to get inspiration about the five points of Pancasila which eventually became the State Policy of the Republic of Indonesia.









Seusai parade laut, rangkaian parade akan dilanjutkan dengan parade darat guna melakukan napak tilas jejak sejarah warisan Bung Karno di kota Ende. Parade ini akan diikuti oleh berbagai komunitas, dimana yang paling menarik adalah tampilan berbagai etnis di Indonesia dalam balutan busana adat serta tarian dan musik tradisional yang akan ditampilkan sepanjang perjalanan. Rute parade darat ini akan melewati beberapa situs penting antara lain : Kantor Polisi Militer (Kantor Militer Belanda), Museum Soekarno (Rumah Soekarno), Serambi Soekarno, Wisma Imaculata, Makam Ibu Amsi, Lapangan Pancasila, Titik Nol Kilometer, Taman Renungan Pancasila. Disetiap situs akan disampaikan dramatisasi dan dibacakan narasi singkat tentang sejarah situs-situs tersebut. Dua orang talent terpilih yang memerankan tokoh Soekarno dan istri akan turut melakukan parade darat ini. 




After the sea parade, the series of parades will be continued with a land parade to trace the history of Soekarno's heritage in the city of Ende. This parade will be attended by various communities, where the most interesting is the display of various ethnicities in Indonesia in traditional clothing as well as traditional dances and music that will be displayed along the way. This land parade route will pass through several important sites including: Military Police Office (Dutch Military Office), Soekarno Museum (Soekarno’s House), Serambi Soekarno, Wisma Imaculata (the place where Soekarno performed his 13 dramas), Makam Ibu Amsi, Pancasila Square, Zero Kilometer Point, Pancasila Reflection Park. Each site will be presented dramatization and read a brief narrative about the history of these sites. Two selected talents who play Soekarno and his wife will participate in this land parade. Beside the parade, there will be an exhibition for about two nights that also perfomed music and dance (modern and traditional). (Ferdy Wara/ Mario Lagu)

 






Dengan mengambil titik start dari Pulau Ende, puluhan perahu nelayan di iringi oleh Kapal Angkatan Laut Republik Indonesia kegiatan parade akan dimulai dengan aktivitas Parade Laut yang mengusung symbol Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.

Malam hari sebelum parade laut dilakukan, akan didahului dengan Do’a Pancasila bersama masyarakat Pulau Ende serta turut dihadiri oleh Muspida Kabupaten Ende.

Parade laut dimaksudkan untuk menjadi siimbol kedatangan Soekarno ke kota Ende dengan menumpang kapal HMS Jan Van Riebeck untuk selanjutnya beliau akan disaingkan di kota kecil ini selama empat tahun pada medio tahun 1934 – 1938. Selama pengasingan di kota Ende, beliau ditemani oleh istri beliau, Inggit Ganarsih bersama ibu mertuanya (Ibu Amsi) serta kedua anak angkatnya. Di pelabuhan Ende (yang kini juga dinamakan Pelabuhan Bung Karno) rombongan parade laut akan diterima secara resmi oleh tokoh masyarakat, tokoh adat serta Pemerintah Kabupaten Ende yang membaur bersama ribuan peserta parade darat.

By taking the starting point from Ende Island, dozens of fishing boats accompanied by Navy Ships of the Republic of Indonesi, parade activities will begin with Sea Parade activities that carry the symbol of Pancasila as the basis of the Republic of Indonesia.  The night before the sea parade was carried out, was preceded the preyer ceremonies called as Do’a Pancasila Pancasila held by  the people of Ende Island and also attended by the ende regencies leaders.  The sea parade was intended to be a symbol of Sukarno's arrival in the city of Ende aboard the HMS Jan Van Riebeck and then he would be rivaled in this small town for four years in the middle of 1934 – 1938. During his exile in the city of Ende, he was accompanied by his wife, Inggit Ganarsih with his mother-in-law (Ibu Amsi) and his two adopted children. At Ende port (which is now also called as Bung Karno Port) the sea parade group will be officially received by community leaders, traditional leaders and the Ende Regency Government who mingle with thousands of people that will attending the Land Parade (historical walk). There will be a welcoming ceremony before the parade continuing with the land parade (historical walk). 

During the land parade (historical walk) there also various of attraction and entertainment that carried by the art groups and various ethnics that attend the parade. There will be some point to visit and at every stoping point there will a story telling about Soekarno’s heritage (Ferdy Wara, Mario Lagu)

The Path to Mt.Iya