Dengan mengambil titik start dari Pulau Ende, puluhan perahu nelayan di iringi oleh Kapal Angkatan Laut Republik Indonesia kegiatan parade akan dimulai dengan aktivitas Parade Laut yang mengusung symbol Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia.
Malam hari sebelum parade laut dilakukan, akan
didahului dengan Do’a Pancasila bersama masyarakat Pulau Ende serta turut
dihadiri oleh Muspida Kabupaten Ende.
Parade laut dimaksudkan untuk menjadi siimbol
kedatangan Soekarno ke kota Ende dengan menumpang kapal HMS Jan Van Riebeck
untuk selanjutnya beliau akan disaingkan di kota kecil ini selama empat tahun
pada medio tahun 1934 – 1938. Selama pengasingan di kota Ende, beliau ditemani
oleh istri beliau, Inggit Ganarsih bersama ibu mertuanya (Ibu Amsi) serta kedua
anak angkatnya. Di pelabuhan Ende (yang kini juga dinamakan Pelabuhan Bung
Karno) rombongan parade laut akan diterima secara resmi oleh tokoh masyarakat,
tokoh adat serta Pemerintah Kabupaten Ende yang membaur bersama ribuan peserta
parade darat.
By taking the starting point from Ende
Island, dozens of fishing boats accompanied by Navy Ships of the Republic of
Indonesi, parade activities will begin with Sea Parade activities that carry
the symbol of Pancasila as the basis of the Republic of Indonesia. The night before the sea parade was carried
out, was preceded the preyer ceremonies called as Do’a Pancasila
During the land parade (historical walk) there also various of attraction and entertainment that carried by the art groups and various ethnics that attend the parade. There will be some point to visit and at every stoping point there will a story telling about Soekarno’s heritage (Ferdy Wara, Mario Lagu)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar