Selasa, 03 Desember 2024

TRIBUTE TO MARILONGA
(THE EVENT AND THE  LOCAL HERO)


The statue of Marilonga and Marilonga Fort in Watunggere Marilonga Village - Detukeli District of Ende Regency
Mari Longa (1855-1907) was a great fighter of the local hero who firmly resisted the Dutch colonizers. The blood of the leader and knight flowed from his father, Longa  Rowa.  Longa  Rowa  is a  commander - in -chief and border guard of the Nida  Guild  Land.  Mari  Longa  was  born  from  the  womb of a mother named Kemba  Kore  in  Watunggere,  Detukeli,  Ende  Regency, East Nusa Tenggara. At first,  Mari  Longa  was  named  Leba  Longa  by her father. In the local language (Lio),  leba  is the  name  of a bitter melon vegetable that tastes very bitter. Mari Longa's  father  chose  the  name  Leba which means bitter, hoping that his son could    have   a  firm   nature.  However,  over  time,  Leba  Longa  experienced sickness and was always  whiny.  One  night, Longa Rowa dreamed that her son had to be renamed Mari. Mari is a type of tree whose bark is very bitter and the wood is hard. Attended by local traditional leaders, Leba was officially renamed Mari Longa.  Since then, Mari Longa has grown very healthy. 

Mari Longa (1855—1907) adalah seorang pejuang besar bangsa Indonesia dan pahlawan lokal yang dengan tegas melawan penjajah Belanda. Darah pemimpin dan kesatria mengalir dari ayahnya, Longa Rowa. Longa Rowa merupakan seorang panglima besar dan penjaga perbatasan Tanah Persekutuan Nida. Mari Longa dilahirkan dari rahim seorang ibu bernama Kemba Kore di Watunggere, Kecamatan Detukeli, Kebuopaten Ende. Pada awalnya, Mari Longa diberi nama Leba Longa oleh ayahnya. Dalam bahasa Lio, leba adalah nama sayur pare yang sangat pahit rasanya. Ayah Mari Longa memilih nama Leba yang bermakna pahit, berharap anaknya dapat memiliki sifat yang tegas. Namun, seiring berjalan waktu, Leba Longa mengalami sakit-sakitan dan selalu cengeng. Suatu malam, Longa Rowa bermimpi bahwa anaknya harus diganti namanya menjadi Mari. Mari adalah sejenis pohon yang kulitnya sangat pahit dan keras kayunya. Dengan dihadiri oleh tokoh adat setempat, Leba secara resmi diganti namanya menjadi Mari Longa. Sejak saat itu, Mari Longa tumbuh dengan sangat sehat.

Since she was about four years old, Mari Longa has learned archery. Mari Longa's leadership was already seen when he played wars with his friends. At the age of eight, Mari Longa was used to hunting in the forest with the villagers. Mari Longa is also known as a nomad. He wandered from the tip of Flores, even to some of the nearby islands of Flores. His experience since childhood has made his perspective and insight broader. 

During the trip, Mari Longa saw with her own eyes the suffering of the Flores people from the western end to the east. For those who fought against the Dutch, they were arrested, beaten, kicked, and even put in a prison. With his leadership and courage, Mari Longa was determined to carry out a revolution against the Dutch. The first step is to seek sympathizers by holding moral movements from village to village.

Sejak usianya yang sekitar empat tahun, Mari Longa sudah belajar memanah. Kepemimpinan Mari Longa sudah terlihat ketika Ia bermain perang-perangan bersama teman-temannya. Pada usia delapan tahun, Mari Longa sudah terbiasa ikut berburu di hutan bersama orang-orang desa. Mari Longa juga dikenal sebagai seorang pengembara. Ia mengembara dari ujung Flores, bahkan sampai ke beberapa pulau terdekat Flores. Pengalamannya sejak kecil membuat cara pandang dan wawasannya semakin luas.

Selama melakukan perjalanan, Mari Longa melihat dengan matanya sendiri penderitaan orang Flores dari ujung barat hingga timur. Bagi yang melawan Belanda, mereka ditangkap, dipukul, ditendang, bahkan dimasukkan ke dalam bui. Dengan modal kepemimpinan dan keberaniannya, Mari Longa bertekad untuk melakukan revolusi menentang Belanda. Langkah awalnya adalah mencari simpatisan dengan mengadakan gerakan moral dari kampung ke kampung.

      
                                                           The TRIBUTE TO MARILONGA event in November 10 every year

Mari Longa  is  highly  respected by the people of Ende because he also has a high social sense  towards  fellow  humans. He likes to help and put the interests of the people first. Let's  get  along with anyone, regardless of feathers,  there is no difference  in treatment between  one  person   and  another.   This  is  what  made  Mari  Longa  recognized as a formidable leader and became an idol of the community at that time. Mari Longa arrives at  the  end  of his  wanderlust  when  he   met  Nderu  Ndoki  who  becomes  his  wife. In addition  to  Nderu  Ndoki,  Mari Longa  also has six concubines, namely Kapi Mbipi, Weti Nduru, Fai Bilo, Weti Atu, Tidhu, Aru Atu, and Bela Badjo. 

Mari Longa sangat disegani oleh masyarakat Ende karena ia juga memiliki rasa sosial yang tinggi terhadap sesama manusia. Ia suka menolong dan mendahulukan kepentingan orang banyak. Mari Longa bergaul dengan siapa saja, tanpa memandang bulu, tidak ada perbedaan perlakuan antara satu orang dengan orang lainnya. Hal inilah yang membuat Mari Longa dapat diakui sebagai sosok pemimpin yang tangguh dan menjadi idola masyarakat saat itu. Mari Longa tiba di ujung masa pengembaraannya ketika ia bertemu dengan Nderu Ndoki yang menjadi istrinya. Selain Nderu Ndoki, Mari Longa juga memiliki enam orang selir yaitu Kapi Mbipi, Weti Nduru, Fai Bilo, Weti Atu, Tidhu, Aru Atu, dan Bela Badjo

November 10 is Heroes' Day where on that date nationally it is dedicated to commemorating the services of heroes who have died for the independence of Indonesia. Every year, the Ende Regency Government takes this moment to be celebrated together in Watunggere Marilonga Village because in that location, in addition to being Marilonga's birthplace, it also still has a historical heritage in the form of a fortress which is his last defense against the Dutch colonial government. This year, the activities were carried out more lively, including the parade of 1000 torches, creative economy exhibitions and art performances sponsored by Gudang Garam Surya Nusantara.

Tanggal 10 November adalah hari pahlawan di mana pada tanggal tersebut secara nasional didedikasikan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Setiap tahun pula, Pemerintah Kabupaten Ende mengambil momen ini untuk dirayakan secara bersama di Desa Watunggere Marilonga karena di lokasi itu selain merupakan desa kelahiran Marilonga, juga masih memiliki warisan sejarah berupa benteng yang merupakan pertahanan terakhir beliau dalam menghadapi pemerintah colonial Belanda.

Tahun ini kegiatan dilakukan dengan lebih meriah antara lain, pawai 1000 obor, pameran ekonomi kreatif serta pentas seni yang turut disponsori oleh Gudang Garam Surya Nusantara. (ferdy wara/mario lagu)



The Path to Mt.Iya