

Mari Longa (1855—1907) adalah seorang pejuang besar bangsa Indonesia dan pahlawan lokal yang dengan tegas melawan penjajah Belanda. Darah pemimpin dan kesatria mengalir dari ayahnya, Longa Rowa. Longa Rowa merupakan seorang panglima besar dan penjaga perbatasan Tanah Persekutuan Nida. Mari Longa dilahirkan dari rahim seorang ibu bernama Kemba Kore di Watunggere, Kecamatan Detukeli, Kebuopaten Ende. Pada awalnya, Mari Longa diberi nama Leba Longa oleh ayahnya. Dalam bahasa Lio, leba adalah nama sayur pare yang sangat pahit rasanya. Ayah Mari Longa memilih nama Leba yang bermakna pahit, berharap anaknya dapat memiliki sifat yang tegas. Namun, seiring berjalan waktu, Leba Longa mengalami sakit-sakitan dan selalu cengeng. Suatu malam, Longa Rowa bermimpi bahwa anaknya harus diganti namanya menjadi Mari. Mari adalah sejenis pohon yang kulitnya sangat pahit dan keras kayunya. Dengan dihadiri oleh tokoh adat setempat, Leba secara resmi diganti namanya menjadi Mari Longa. Sejak saat itu, Mari Longa tumbuh dengan sangat sehat.
Since she was about four years old, Mari Longa has learned archery. Mari Longa's leadership was already seen when he played wars with his friends. At the age of eight, Mari Longa was used to hunting in the forest with the villagers. Mari Longa is also known as a nomad. He wandered from the tip of Flores, even to some of the nearby islands of Flores. His experience since childhood has made his perspective and insight broader.
During the trip, Mari Longa saw with her own eyes the suffering of the Flores people from the western end to the east. For those who fought against the Dutch, they were arrested, beaten, kicked, and even put in a prison. With his leadership and courage, Mari Longa was determined to carry out a revolution against the Dutch. The first step is to seek sympathizers by holding moral movements from village to village.
Sejak usianya yang sekitar empat tahun, Mari Longa sudah belajar memanah. Kepemimpinan Mari Longa sudah terlihat ketika Ia bermain perang-perangan bersama teman-temannya. Pada usia delapan tahun, Mari Longa sudah terbiasa ikut berburu di hutan bersama orang-orang desa. Mari Longa juga dikenal sebagai seorang pengembara. Ia mengembara dari ujung Flores, bahkan sampai ke beberapa pulau terdekat Flores. Pengalamannya sejak kecil membuat cara pandang dan wawasannya semakin luas.
Selama melakukan perjalanan, Mari Longa melihat dengan matanya sendiri penderitaan orang Flores dari ujung barat hingga timur. Bagi yang melawan Belanda, mereka ditangkap, dipukul, ditendang, bahkan dimasukkan ke dalam bui. Dengan modal kepemimpinan dan keberaniannya, Mari Longa bertekad untuk melakukan revolusi menentang Belanda. Langkah awalnya adalah mencari simpatisan dengan mengadakan gerakan moral dari kampung ke kampung.
Mari
Longa sangat disegani oleh masyarakat Ende karena ia
juga memiliki rasa sosial yang tinggi terhadap sesama manusia. Ia suka menolong
dan mendahulukan kepentingan orang banyak. Mari Longa bergaul dengan siapa
saja, tanpa memandang bulu, tidak ada perbedaan perlakuan antara satu orang
dengan orang lainnya. Hal inilah yang membuat Mari Longa dapat diakui sebagai
sosok pemimpin yang tangguh dan menjadi idola masyarakat saat itu. Mari Longa
tiba di ujung masa pengembaraannya ketika ia bertemu dengan Nderu Ndoki yang
menjadi istrinya. Selain Nderu Ndoki, Mari Longa juga memiliki enam orang selir
yaitu Kapi Mbipi, Weti Nduru, Fai Bilo, Weti Atu, Tidhu, Aru Atu,
dan Bela Badjo
November 10 is Heroes' Day where on that date nationally it
is dedicated to commemorating the services of heroes who have died for the
independence of Indonesia. Every year, the Ende Regency Government takes this
moment to be celebrated together in Watunggere Marilonga Village because in
that location, in addition to being Marilonga's birthplace, it also still has a
historical heritage in the form of a fortress which is his last defense against
the Dutch colonial government. This year, the activities were carried out more
lively, including the parade of 1000 torches, creative economy exhibitions and
art performances sponsored by Gudang Garam Surya Nusantara.
Tanggal 10 November adalah hari pahlawan di mana pada
tanggal tersebut secara nasional didedikasikan untuk mengenang jasa-jasa para
pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Setiap tahun pula,
Pemerintah Kabupaten Ende mengambil momen ini untuk dirayakan secara bersama di
Desa Watunggere Marilonga karena di lokasi itu selain merupakan desa kelahiran
Marilonga, juga masih memiliki warisan sejarah berupa benteng yang merupakan
pertahanan terakhir beliau dalam menghadapi pemerintah colonial Belanda.
Tahun ini kegiatan dilakukan dengan lebih meriah antara lain, pawai 1000 obor, pameran ekonomi kreatif serta pentas seni yang turut disponsori oleh Gudang Garam Surya Nusantara. (ferdy wara/mario lagu)